Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri: Langkah Pertama untuk Bertumbuh
INSPIRASI
Rachel Stefanie, Penulis Buku "Aku Buta, Tapi Melihat dengan Hati" sekaligus Perajin DCE
7/28/20267 min read


Pernahkah kita merasa marah pada diri sendiri? Merasa hidup tidak adil? Atau bertanya, “Mengapa harus aku?” Saya rasa hampir setiap orang pernah mengalaminya. Terlebih bagi kami penyandang disabilitas. Ada yang lahir tanpa penglihatan, ada yang tidak dapat mendengar, ada yang hidup dengan autisme, cerebral palsy, atau kondisi lainnya. Tidak jarang kami harus menghadapi tatapan, penilaian, bahkan perlakuan yang menyakitkan dari orang lain. Tetapi, di tengah semua itu, saya belajar satu hal yang sangat penting: perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik dimulai ketika kita berdamai dengan diri sendiri.
Luka yang Pernah Saya Simpan
Saya seorang tunanetra. Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya sering menjadi sasaran ejekan teman-teman. Mereka memanggil saya dengan sebutan “si buta”. Mungkin bagi mereka itu hanya candaan. Namun bagi seorang anak kecil, kata-kata itu terasa seperti duri yang terus menusuk hati. Saya pulang sekolah membawa kesedihan itu sendiri. Saya tidak pernah bercerita kepada orang tua karena tidak ingin mereka ikut sedih. Akhirnya, semua itu saya pendam sendiri.
Tanpa saya sadari, luka itu membentuk cara saya memandang diri saya sendiri. Saya menjadi minder, merasa berbeda dari teman-teman yang memiliki penglihatan normal. Saya lebih memilih menyendiri dan menjadi tidak terlalu percaya diri. Sekarang saya menyadari bahwa luka yang dipendam tidak akan hilang dengan sendirinya. Luka itu hanya akan membuat kita semakin jauh dari menerima diri sendiri.


Titik Balik dalam Hidup Saya
Banyak orang mengira berdamai dengan diri sendiri berarti pasrah. Padahal bukan itu artinya. Berdamai dengan diri sendiri adalah menerima kenyataan tanpa berhenti bertumbuh. Saya menerima bahwa saya tidak dapat melihat. Tetapi saya tidak menerima jika hidup saya tidak memiliki masa depan. Menerima diri membuat kita berhenti menyalahkan keadaan. Energi yang sebelumnya habis untuk mengeluh bisa kita gunakan untuk belajar, berkarya, dan berkembang. Ketika kita berhenti memusuhi diri sendiri, kita mulai melihat potensi yang selama ini tertutup oleh rasa takut dan rasa minder.
Berdamai dengan Diri Sendiri Bukan Berarti Menyerah
Saat beranjak remaja, saya mulai berpikir, saya tidak bisa terus hidup dengan rasa rendah diri. Saya ingin bangkit. Saya ingin hidup saya memiliki arti. Ada sebuah pengalaman yang makin menguatkan tekad saya. Saya pernah ditolak oleh orang tua dari seseorang yang saya sayangi. Alasannya sederhana, namun begitu menyakitkan: mereka menganggap saya hanya akan menjadi beban karena saya seorang tunanetra. Kalimat itu sempat melukai hati saya. Namun, waktu berlalu dan saya memilih untuk mengubah luka itu menjadi bahan bakar semangat.
Saya berkata kepada diri sendiri, “Aku akan membuktikan bahwa disabilitas bukan berarti tidak mampu.” Sejak saat itu, saya mulai belajar banyak hal. Saya belajar pergi dan pulang sekolah sendiri. Saya belajar memasak, membereskan kamar, membantu pekerjaan rumah, dan melakukan berbagai aktivitas secara mandiri. Awalnya memang tidak mudah. Ada rasa takut. Ada kegagalan. Tetapi setiap keberhasilan kecil membuat saya semakin percaya bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Sedikit demi sedikit paradigma saya berubah. Saya berhenti berfokus pada apa yang tidak bisa saya lakukan, lalu mulai mensyukuri begitu banyak hal yang ternyata masih bisa saya kerjakan.


Karya Menjadi Bukti, Bukan Sekadar Kata
Hari ini saya bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi seorang entrepreneur. Saya membuat berbagai kerajinan tangan yang dititipkan melalui Deus Caritas Est (DCE). Selain itu saya juga memproduksi Chicken Nugget Keraton menggunakan berbagai peralatan yang mendukung aktivitas seorang tunanetra sehingga saya dapat bekerja secara mandiri.
Saya bertemu banyak teman disabilitas baru di DCE. Ada sahabat tuli yang menghasilkan rajutan dengan begitu rapi. Ada yang membuat rosario dengan penuh ketelitian. Ada yang menjahit tote bag, membuat aksesori, melukis, dan menghasilkan berbagai karya indah lainnya.
Masing-masing memiliki keterbatasan yang berbeda. Namun kami memiliki satu kesamaan: kami memilih untuk terus bertumbuh. Setiap karya yang dihasilkan bukan hanya sebuah produk. Di baliknya ada keberanian, kesabaran, latihan, air mata, dan semangat untuk terus melangkah.
Mengapa Berdamai dengan Diri Sendiri Itu Penting?
Ketika kita mulai menerima diri sendiri, banyak hal ikut berubah. Kita menjadi lebih percaya diri. Kita lebih berani mencoba hal-hal baru. Kita tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita lebih mudah bersyukur. Dan yang paling penting, kita dapat menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Orang yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri akan lebih mudah memberikan semangat kepada orang lain, karena ia tahu bagaimana rasanya jatuh dan bagaimana rasanya bangkit.
Segala Sesuatu Dimulai dari Diri Sendiri
Memang benar, kita membutuhkan dukungan keluarga, sahabat, komunitas, bahkan pemerintah. Semua itu sangat penting. Namun perubahan terbesar tetap dimulai dari dalam diri. Kita tidak bisa terus menunggu orang lain mengangkat kita jika kita sendiri belum mau bangkit. Kita tidak bisa berharap orang lain percaya kepada kemampuan kita jika kita sendiri masih meragukannya. Belajar menolong diri sendiri bukan berarti menolak bantuan. Justru itu adalah langkah awal agar kita siap menerima setiap kesempatan yang Tuhan berikan.
Disabilitas bukanlah penghalang untuk berkarya. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Jika hari ini kamu masih sedang belajar menerima diri sendiri, jangan menyerah. Tidak apa-apa jika prosesnya lambat. Tidak apa-apa jika sesekali kamu masih merasa lelah. Yang terpenting adalah terus melangkah. Karena saat kamu mulai berdamai dengan diri sendiri, kamu sedang membuka pintu bagi begitu banyak kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah kamu bayangkan. Dan ingatlah, keterbatasan mungkin menjadi bagian dari cerita hidup kita, tetapi tidak pernah harus menjadi akhir dari cerita tersebut.



Pernahkah kita merasa marah pada diri sendiri? Merasa hidup tidak adil? Atau bertanya, “Mengapa harus aku?” Saya rasa hampir setiap orang pernah mengalaminya. Terlebih bagi kami penyandang disabilitas. Ada yang lahir tanpa penglihatan, ada yang tidak dapat mendengar, ada yang hidup dengan autisme, cerebral palsy, atau kondisi lainnya. Tidak jarang kami harus menghadapi tatapan, penilaian, bahkan perlakuan yang menyakitkan dari orang lain. Tetapi, di tengah semua itu, saya belajar satu hal yang sangat penting: perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik dimulai ketika kita berdamai dengan diri sendiri.
Luka yang Pernah Saya Simpan
Saya seorang tunanetra. Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya sering menjadi sasaran ejekan teman-teman. Mereka memanggil saya dengan sebutan “si buta”. Mungkin bagi mereka itu hanya candaan. Namun bagi seorang anak kecil, kata-kata itu terasa seperti duri yang terus menusuk hati. Saya pulang sekolah membawa kesedihan itu sendiri. Saya tidak pernah bercerita kepada orang tua karena tidak ingin mereka ikut sedih. Akhirnya, semua itu saya pendam sendiri.
Tanpa saya sadari, luka itu membentuk cara saya memandang diri saya sendiri. Saya menjadi minder, merasa berbeda dari teman-teman yang memiliki penglihatan normal. Saya lebih memilih menyendiri dan menjadi tidak terlalu percaya diri. Sekarang saya menyadari bahwa luka yang dipendam tidak akan hilang dengan sendirinya. Luka itu hanya akan membuat kita semakin jauh dari menerima diri sendiri.


Titik Balik dalam Hidup Saya
Banyak orang mengira berdamai dengan diri sendiri berarti pasrah. Padahal bukan itu artinya. Berdamai dengan diri sendiri adalah menerima kenyataan tanpa berhenti bertumbuh. Saya menerima bahwa saya tidak dapat melihat. Tetapi saya tidak menerima jika hidup saya tidak memiliki masa depan. Menerima diri membuat kita berhenti menyalahkan keadaan. Energi yang sebelumnya habis untuk mengeluh bisa kita gunakan untuk belajar, berkarya, dan berkembang. Ketika kita berhenti memusuhi diri sendiri, kita mulai melihat potensi yang selama ini tertutup oleh rasa takut dan rasa minder.
Berdamai dengan Diri Sendiri Bukan Berarti Menyerah
Saat beranjak remaja, saya mulai berpikir, saya tidak bisa terus hidup dengan rasa rendah diri. Saya ingin bangkit. Saya ingin hidup saya memiliki arti. Ada sebuah pengalaman yang makin menguatkan tekad saya. Saya pernah ditolak oleh orang tua dari seseorang yang saya sayangi. Alasannya sederhana, namun begitu menyakitkan: mereka menganggap saya hanya akan menjadi beban karena saya seorang tunanetra. Kalimat itu sempat melukai hati saya. Namun, waktu berlalu dan saya memilih untuk mengubah luka itu menjadi bahan bakar semangat.
Saya berkata kepada diri sendiri, “Aku akan membuktikan bahwa disabilitas bukan berarti tidak mampu.” Sejak saat itu, saya mulai belajar banyak hal. Saya belajar pergi dan pulang sekolah sendiri. Saya belajar memasak, membereskan kamar, membantu pekerjaan rumah, dan melakukan berbagai aktivitas secara mandiri. Awalnya memang tidak mudah. Ada rasa takut. Ada kegagalan. Tetapi setiap keberhasilan kecil membuat saya semakin percaya bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Sedikit demi sedikit paradigma saya berubah. Saya berhenti berfokus pada apa yang tidak bisa saya lakukan, lalu mulai mensyukuri begitu banyak hal yang ternyata masih bisa saya kerjakan.


Karya Menjadi Bukti, Bukan Sekadar Kata
Hari ini saya bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi seorang entrepreneur. Saya membuat berbagai kerajinan tangan yang dititipkan melalui Deus Caritas Est (DCE). Selain itu saya juga memproduksi Chicken Nugget Keraton menggunakan berbagai peralatan yang mendukung aktivitas seorang tunanetra sehingga saya dapat bekerja secara mandiri.
Saya bertemu banyak teman disabilitas baru di DCE. Ada sahabat tuli yang menghasilkan rajutan dengan begitu rapi. Ada yang membuat rosario dengan penuh ketelitian. Ada yang menjahit tote bag, membuat aksesori, melukis, dan menghasilkan berbagai karya indah lainnya.
Masing-masing memiliki keterbatasan yang berbeda. Namun kami memiliki satu kesamaan: kami memilih untuk terus bertumbuh. Setiap karya yang dihasilkan bukan hanya sebuah produk. Di baliknya ada keberanian, kesabaran, latihan, air mata, dan semangat untuk terus melangkah.
Mengapa Berdamai dengan Diri Sendiri Itu Penting?
Ketika kita mulai menerima diri sendiri, banyak hal ikut berubah. Kita menjadi lebih percaya diri. Kita lebih berani mencoba hal-hal baru. Kita tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita lebih mudah bersyukur. Dan yang paling penting, kita dapat menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Orang yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri akan lebih mudah memberikan semangat kepada orang lain, karena ia tahu bagaimana rasanya jatuh dan bagaimana rasanya bangkit.
Segala Sesuatu Dimulai dari Diri Sendiri
Memang benar, kita membutuhkan dukungan keluarga, sahabat, komunitas, bahkan pemerintah. Semua itu sangat penting. Namun perubahan terbesar tetap dimulai dari dalam diri. Kita tidak bisa terus menunggu orang lain mengangkat kita jika kita sendiri belum mau bangkit. Kita tidak bisa berharap orang lain percaya kepada kemampuan kita jika kita sendiri masih meragukannya. Belajar menolong diri sendiri bukan berarti menolak bantuan. Justru itu adalah langkah awal agar kita siap menerima setiap kesempatan yang Tuhan berikan.
Disabilitas bukanlah penghalang untuk berkarya. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Jika hari ini kamu masih sedang belajar menerima diri sendiri, jangan menyerah. Tidak apa-apa jika prosesnya lambat. Tidak apa-apa jika sesekali kamu masih merasa lelah. Yang terpenting adalah terus melangkah. Karena saat kamu mulai berdamai dengan diri sendiri, kamu sedang membuka pintu bagi begitu banyak kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah kamu bayangkan. Dan ingatlah, keterbatasan mungkin menjadi bagian dari cerita hidup kita, tetapi tidak pernah harus menjadi akhir dari cerita tersebut.

Kontak
Hubungi kami untuk dukungan dan informasi
Telepon
+62-858-82-999-999
Aliansi Disabilitas Nusantara © 2026. All rights reserved.
