Kisah Seorang Ibu, Pejuang Disabilitas, dan Pembangun Harapan

INSPIRASI

7/9/20263 min read

Kisah Ibu Indriawati mengajarkan bahwa disabilitas bukanlah batas untuk bermimpi. Seorang perempuan pengguna kursi roda mampu membangun usaha, membesarkan anak-anak yang membanggakan, mendampingi anak dengan spektrum autisme dengan penuh kasih, sekaligus mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di Nusa Tenggara Timur.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap keluarga memiliki perjuangannya masing-masing. Ketika perjuangan dijalani dengan ketulusan, keteguhan hati, dan keyakinan untuk terus melangkah, akan selalu ada harapan yang tumbuh.

Karena sejatinya, kekuatan bukanlah tentang mampu berjalan dengan kedua kaki, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah, apa pun kondisi yang dimiliki.

Dari Nusa Tenggara Timur, lahirlah sebuah kisah tentang cinta, ketangguhan, dan harapan.

Ibu Indriawati, Ketua DPD Aliansi Disabilitas Nusantara Provinsi Nusa Tenggara Timur, adalah seorang penyandang disabilitas daksa yang menggunakan kursi roda. Namun, keterbatasan fisik tidak pernah membatasi langkah dan pengabdiannya. Dengan penuh semangat, beliau membangun usaha katering sebagai penopang ekonomi keluarga sekaligus membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu hidup mandiri, produktif, dan berkarya.

Di balik perjuangannya sebagai pelaku usaha dan pemimpin organisasi disabilitas, Ibu Indriawati juga mengemban peran yang tidak kalah besar sebagai seorang ibu. Beliau adalah ibu dari beberapa anak, termasuk putra bungsunya, Muhamad Rayhan, yang merupakan anak dengan spektrum autisme.

Sebagai seorang penyandang disabilitas sekaligus ibu dari anak autisme, Ibu Indriawati memahami bahwa perjuangan mewujudkan kehidupan yang inklusif dimulai dari keluarga. Karena itulah, selain memimpin Aliansi Disabilitas Nusantara Provinsi NTT, beliau juga aktif menjadi pemerhati dan pendamping bagi anak-anak dengan autisme serta keluarganya, agar semakin banyak orang tua yang tidak merasa sendiri dalam mendampingi tumbuh kembang buah hati mereka.

Perjuangan panjang itu membuahkan hasil yang membanggakan. Salah satu putranya, Mohammad Fendy Pradana, kini mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia. Saat ini, ia dipercaya sebagai Sekretaris Pribadi Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Nusa Tenggara Timur.

Tidak hanya berhasil dalam karier, Mohammad Fendy Pradana juga memiliki kemampuan menguasai berbagai bahasa asing. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan yang ditanamkan oleh sang ibu telah melahirkan generasi yang berintegritas, berprestasi, dan siap mengabdi kepada bangsa.

Kisah Ibu Indriawati mengajarkan bahwa disabilitas bukanlah batas untuk bermimpi. Seorang perempuan pengguna kursi roda mampu membangun usaha, membesarkan anak-anak yang membanggakan, mendampingi anak dengan spektrum autisme dengan penuh kasih, sekaligus mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di Nusa Tenggara Timur.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap keluarga memiliki perjuangannya masing-masing. Ketika perjuangan dijalani dengan ketulusan, keteguhan hati, dan keyakinan untuk terus melangkah, akan selalu ada harapan yang tumbuh.

Karena sejatinya, kekuatan bukanlah tentang mampu berjalan dengan kedua kaki, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah, apa pun kondisi yang dimiliki.

Dari Nusa Tenggara Timur, lahirlah sebuah kisah tentang cinta, ketangguhan, dan harapan.

Ibu Indriawati, Ketua DPD Aliansi Disabilitas Nusantara Provinsi Nusa Tenggara Timur, adalah seorang penyandang disabilitas daksa yang menggunakan kursi roda. Namun, keterbatasan fisik tidak pernah membatasi langkah dan pengabdiannya. Dengan penuh semangat, beliau membangun usaha katering sebagai penopang ekonomi keluarga sekaligus membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu hidup mandiri, produktif, dan berkarya.

Di balik perjuangannya sebagai pelaku usaha dan pemimpin organisasi disabilitas, Ibu Indriawati juga mengemban peran yang tidak kalah besar sebagai seorang ibu. Beliau adalah ibu dari beberapa anak, termasuk putra bungsunya, Muhamad Rayhan, yang merupakan anak dengan spektrum autisme.

Sebagai seorang penyandang disabilitas sekaligus ibu dari anak autisme, Ibu Indriawati memahami bahwa perjuangan mewujudkan kehidupan yang inklusif dimulai dari keluarga. Karena itulah, selain memimpin Aliansi Disabilitas Nusantara Provinsi NTT, beliau juga aktif menjadi pemerhati dan pendamping bagi anak-anak dengan autisme serta keluarganya, agar semakin banyak orang tua yang tidak merasa sendiri dalam mendampingi tumbuh kembang buah hati mereka.

Perjuangan panjang itu membuahkan hasil yang membanggakan. Salah satu putranya, Mohammad Fendy Pradana, kini mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia. Saat ini, ia dipercaya sebagai Sekretaris Pribadi Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Nusa Tenggara Timur.

Tidak hanya berhasil dalam karier, Mohammad Fendy Pradana juga memiliki kemampuan menguasai berbagai bahasa asing. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan yang ditanamkan oleh sang ibu telah melahirkan generasi yang berintegritas, berprestasi, dan siap mengabdi kepada bangsa.

Kontak

Hubungi kami untuk dukungan dan informasi

Email

Telepon

+62-858-82-999-999

Aliansi Disabilitas Nusantara © 2026. All rights reserved.